Kontras.id, (Pohuwato) – Aktivis Gorontalo, Naviq Gobel melontarkan sindiran keras kepada Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara (Sulut), Danny H. Pattipeilohy, menyusul kunjungannya ke Kabupaten Pohuwato beberapa hari yang lalu.
Menurut Naviq, kunjungan tersebut belum menunjukkan dampak nyata terhadap penyelamatan wilayah konservasi, khususnya di Gunung Polutube, Desa Balayo, Kecamatan Patilanggio yang merupakan kawasan Cagar Alam Panua.
Naviq menilai, hingga saat ini aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang diduga menggunakan alat berat ekskavator di kawasan Cagar Alam Panua Gunung Polutube masih terus berlangsung. Kondisi itu, menurutnya, justru memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan di kawasan konservasi.
“Kalau setelah kunjungan itu aktivitas PETI masih tetap berjalan, lalu masyarakat harus menilai apa? Jangan sampai kunjungan itu hanya menjadi agenda seremonial tanpa hasil yang benar-benar dirasakan di lapangan,” ujar Naviq kepada Kontras.id, Sabtu 01/08/2026.
Ia bahkan menyindir, perjalanan Kepala BKSDA Sulut dari Manado menuju Pohuwato berpotensi hanya menjadi aktivitas yang menghabiskan anggaran negara apabila tidak diikuti langkah konkret menghentikan dugaan aktivitas ilegal di kawasan konservasi tersebut.
“Jauh-jauh datang ke Pohuwato kalau kenyataannya alat berat masih bebas masuk ke kawasan konservasi, masyarakat tentu berhak mempertanyakan manfaat dari kunjungan tersebut. Jangan sampai hanya terlihat bekerja, tetapi persoalan utamanya tetap dibiarkan berjalan,” kata Naviq.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membentuk persepsi publik bahwa penanganan terhadap dugaan PETI di kawasan Cagar Alam Panua Gunung Polutube belum dilakukan secara maksimal. Ia berharap BKSDA dapat membuktikan sebaliknya melalui tindakan nyata di lapangan.
Baca Juga:
Ekskavator Diduga Garap CA Panua di Desa Balayo, BKSDA dan Polres Pohuwato ‘Bungkam’
Naviq juga mengaku menerima informasi bahwa jumlah alat berat yang diduga beroperasi di kawasan konservasi tersebut terus bertambah. Informasi itu, menurutnya, perlu segera ditindaklanjuti oleh pihak berwenang agar tidak menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih luas.
“Saya mendapat informasi jumlah ekskavator diduga terus bertambah. Kalau informasi ini benar, tentu sangat memprihatinkan. Kawasan konservasi semestinya menjadi wilayah yang paling dijaga, bukan justru diduga semakin terbuka terhadap aktivitas ilegal,” ungkap Naviq.
Naviq menduga adanya pembiaran terhadap aktivitas PETI di kawasan konservasi, sehingga para pelaku leluasa memasukkan alat berat. Meski demikian, ia meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait membuktikan ada atau tidaknya unsur pembiaran tersebut melalui proses penegakan hukum yang transparan.
Ia menegaskan, kritik yang disampaikannya merupakan bentuk dorongan kepada lembaga yang memiliki kewenangan menjaga kawasan konservasi agar benar-benar menjalankan tugasnya secara maksimal.
Baca Juga:
Bungkam Soal Aktivitas PETI di Gunung Polutube Desa Balayo, Aktivis Sindir BKSDA
Sebagai informasi, Kepala BKSDA Sulut, Danny H. Pattipeilohy beberapa hari lalu melakukan pertemuan dengan Bupati Pohuwato. Dalam agenda tersebut, ia didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Samsudin Hadju, Kepala Resort Cagar Alam Panua Tatang Abdullah, serta jajaran BKSDA Sulut.
Hingga berita ditulis, Kontras.id masih berupaya meminta tanggapan dari Kepala BKSDA Sulut atas kritik yang disampaikan Naviq Gobel terkait dugaan aktivitas PETI di kawasan Cagar Alam Panua Gunung Polutube.













