Kontras.id, (Sangihe) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe memperingati Hari Mangrove Sedunia 2026 dengan menggelar aksi penanaman mangrove di Teluk Desa Bahari, Kampung Talengen, Kecamatan Tabukan Tengah, Senin 27/07/2026.
Kegiatan yang dipimpin langsung Bupati Michael Thungari, S.E., M.M., itu menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir sekaligus memperkuat mitigasi terhadap dampak perubahan iklim.
Aksi lingkungan tersebut diikuti jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kapitalaung Kampung Talengen Yusak Makasehe, serta masyarakat setempat. Kehadiran berbagai elemen itu mencerminkan semangat kolaborasi untuk menjaga kawasan pesisir sebagai aset penting bagi kehidupan masyarakat kepulauan.
Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa keberadaan mangrove memiliki peran strategis bagi Kabupaten Kepulauan Sangihe yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi laut. Menurutnya, hutan mangrove bukan hanya menjadi pelindung alami kawasan pesisir, tetapi juga penopang keberlanjutan ekonomi masyarakat, khususnya para nelayan.
“Menjaga mangrove berarti menjaga benteng alami yang melindungi kampung-kampung kita dari gelombang, menahan abrasi, serta menjadi tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan, kepiting, dan biota laut yang menopang kehidupan para nelayan,” ujar Michael.
Bupati juga mengingatkan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kelestarian lingkungan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan hanya dapat dicapai apabila keseimbangan alam tetap terpelihara.
“Tidak ada pembangunan yang berkelanjutan tanpa lingkungan yang lestari. Pembangunan harus selalu berjalan seiring dengan upaya menjaga keseimbangan alam,” tegasnya.
Lebih lanjut, Michael mengajak masyarakat agar tidak berhenti pada seremoni penanaman semata. Ia menekankan pentingnya merawat dan melindungi mangrove agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, sekaligus mencegah kerusakan akibat penebangan liar maupun pencemaran lingkungan.
“Mangrove yang kita tanam hari ini harus dirawat agar benar-benar tumbuh menjadi benteng kehidupan. Mari kita jadikan gerakan menanam mangrove sebagai budaya bersama. Alam yang kita wariskan kepada generasi mendatang tidak ditentukan oleh apa yang kita ucapkan hari ini, melainkan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini,” kata Michael.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLH) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Christin Makagansa, S.T.P., M.Si., mengatakan keberhasilan pelestarian kawasan mangrove sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga dan merawat tanaman yang telah ditanam.
“Masyarakat diharapkan dapat menjaga tanaman mangrove ini agar bertumbuh dengan baik dan menjadi benteng utama pelestarian pantai di Teluk Talengen. Populasi mangrove merupakan habitat penting bagi biota laut seperti ikan dan kepiting, sehingga keberlangsungan hidup mereka sangat ditunjang oleh kelestarian kawasan pesisir ini,” jelas Christin.
Ia menambahkan, DLH Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mendorong masyarakat pesisir, khususnya warga Kampung Talengen, untuk bersama-sama menjaga hutan mangrove dari berbagai ancaman kerusakan serta melakukan reboisasi di kawasan pesisir yang mengalami degradasi.
“Untuk kegiatan hari ini, kami menyiapkan sebanyak 200 bibit mangrove yang difokuskan untuk ditanam di wilayah Teluk Kampung Talengen,” tandas Christin.
Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe berharap gerakan pelestarian mangrove tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi budaya yang terus tumbuh di tengah masyarakat.
Dengan sinergi antara pemerintah, Forkopimda, pemerintah kampung, dan masyarakat, kawasan pesisir Teluk Talengen diharapkan tetap terjaga sebagai benteng alami sekaligus habitat penting bagi berbagai biota laut.














