Example floating
Example floating
AdvertorialDaerahEkonomi

Gas LPG di Boltara Langka Jelang Lebaran, Harga Tembus Rp70 Ribu

×

Gas LPG di Boltara Langka Jelang Lebaran, Harga Tembus Rp70 Ribu

Sebarkan artikel ini
Pasar di Boltara
Ilustrasi suasana pasar di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sulawesi Utara,(foto dok. AI/Kontras.id).

Kontras.id, (Boltara) – Kekhawatiran masyarakat mulai meningkat menjelang Hari Raya Idulfitri. Sekitar sepuluh hari sebelum Lebaran, indikasi kelangkaan gas LPG ukuran 3 kilogram mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara), Sulawesi Utara.

Situasi tersebut juga diiringi lonjakan harga yang dinilai semakin memberatkan masyarakat kecil. Pemerintah daerah pun didesak segera mengambil langkah cepat agar kondisi ini tidak berkembang menjadi krisis kebutuhan rumah tangga menjelang hari raya.

Di beberapa kecamatan, distribusi LPG bersubsidi dilaporkan mulai tersendat. Akibatnya, masyarakat terpaksa berkeliling dari satu pengecer ke pengecer lainnya hanya untuk mendapatkan satu tabung gas.
Kondisi paling terasa dilaporkan terjadi di Kecamatan Bintauna. Di wilayah ini, harga LPG 3 kilogram disebut sudah melambung jauh di atas harga normal.

Seorang warga Bintauna, Ladin Binolombangan, mengungkapkan bahwa gas bersubsidi kini bukan hanya mahal, tetapi juga semakin sulit ditemukan di tingkat pengecer.

Menurutnya, harga LPG yang sebelumnya relatif stabil kini telah meroket hingga mencapai sekitar Rp60 ribu per tabung.

Kondisi ini dinilai sangat memberatkan masyarakat, terutama pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan serta rumah tangga berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada LPG subsidi.

Kelangkaan tersebut, kata dia, bukanlah fenomena baru. Situasi serupa disebut hampir selalu terjadi setiap kali menjelang perayaan hari besar keagamaan.

Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa meningkatnya permintaan sering kali tidak diimbangi dengan distribusi yang memadai. Akibatnya, stok di tingkat agen hingga pengecer cepat menipis.

“Setiap mendekati Lebaran, situasi seperti ini selalu terulang. Gas menjadi sulit didapat dan harganya langsung melonjak,” keluh Ladin kepada Kontras.id, Senin 09/03/2026 .

Keluhan serupa juga datang dari warga Kecamatan Sangkub. Di wilayah tersebut, kondisi bahkan disebut lebih parah.

Beberapa warga mengaku harus membayar hingga Rp70 ribu hanya untuk mendapatkan satu tabung LPG ukuran 3 kilogram.

Selain mahal, ketersediaannya juga sangat terbatas sehingga masyarakat harus mencari ke berbagai tempat untuk mendapatkan gas. Situasi ini membuat sebagian warga mulai khawatir kebutuhan memasak sehari-hari akan terganggu apabila distribusi tidak segera diperbaiki.

“Gas sekarang sangat sulit didapat. Kalau pun ada, harganya sudah sangat tinggi,” ujar seorang warga Sangkub.

Pemkab Diminta Segera Bertindak

Melihat kondisi tersebut, masyarakat berharap pemerintah daerah tidak menunggu situasi semakin memburuk.

Pengawasan terhadap jalur distribusi dinilai perlu segera diperketat, terutama pada penyaluran dari agen hingga ke tingkat pengecer.

Selain itu, koordinasi dengan pihak distributor serta instansi terkait juga dianggap penting guna memastikan stok LPG bersubsidi tetap tersedia di pasaran.

Tidak hanya soal LPG, masyarakat juga meminta pemerintah ikut mengawasi stabilitas harga bahan pokok lainnya.

Sejumlah komoditas yang mulai menunjukkan tren kenaikan di antaranya beras, minyak goreng, gula pasir, telur, hingga daging ayam.

Lonjakan harga bahan pokok tersebut dinilai sangat rawan terjadi menjelang Lebaran seiring meningkatnya permintaan masyarakat.

Jika tidak diantisipasi sejak dini, masyarakat khawatir harga akan semakin melambung dan sulit dijangkau oleh kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Pengawasan terhadap distribusi LPG bersubsidi menjadi salah satu langkah yang paling diharapkan masyarakat saat ini.

Pemerintah daerah diminta memastikan tidak terjadi penimbunan maupun penyimpangan distribusi yang dapat memicu kelangkaan di tingkat konsumen.

Selain itu, operasi pasar maupun sidak harga juga dinilai perlu dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan serta harga di lapangan.

Dengan pengawasan yang ketat, masyarakat berharap kebutuhan pokok menjelang Lebaran tetap tersedia dengan harga yang wajar.

“Yang kami harapkan hanya satu, pemerintah benar-benar serius melihat kondisi ini. Jangan sampai masyarakat kesulitan menjelang hari raya,” ujar seorang warga.

Jika langkah antisipatif tidak segera dilakukan, dikhawatirkan tekanan terhadap kebutuhan rumah tangga akan semakin berat dalam beberapa hari ke depan, tepat ketika masyarakat tengah bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri.

Share:  
Example 120x600