Kontras.id, (Boltara) – Momentum peringatan Hari Kartini 2026 menjadi ajang pembuktian bagi Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara).
Di balik deretan penghargaan yang diraih Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boltara, terdapat kerja nyata dan terukur dari jajaran Dinas PPKBPPPA yang berhasil mengharumkan nama daerah hingga tingkat Provinsi Sulawesi Utara bahkan nasional.
Sejumlah capaian strategis yang diumumkan dalam upacara Hari Kartini, Selasa 21/04/2026, menjadi bukti konkret atas kinerja instansi tersebut.
Mulai dari keberhasilan TP-PKK Boltara meraih predikat Bronze sebagai Mitra GENTING, hingga prestasi individu Penyuluh KB terbaik tingkat provinsi yang diraih Sarini Rauf, seluruhnya tidak lepas dari pembinaan dan arah kebijakan dinas.
Tak hanya itu, Boltara juga sukses meraih berbagai penghargaan dalam pelayanan KB dan kesehatan reproduksi, termasuk Juara 1 pelayanan KB pasca persalinan dalam rangka World Contraception Day 2025.
Bupati Boltara, Dr. Sirajudin Lasena, bahkan secara terbuka memberikan apresiasi atas keberhasilan Dinas PPKBPPPA.
“Mereka ini contoh Kartini masa kini. Bekerja dalam diam, tapi menghasilkan prestasi,” ujar Sirajudin.
Sementara itu, Kepala Dinas (Kadis) PPKBPPPA Yani Lasam membeberkan strategi utama di balik keberhasilan tersebut. Menurutnya, kunci paling krusial adalah penguatan konvergensi program lintas sektor berbasis data by name by address.
“Intervensi tidak lagi umum, tetapi langsung menyasar keluarga berisiko stunting,” jelas Yani kepada Kontras.id.
Pendekatan itu diperkuat melalui edukasi keluarga oleh kader, PKB/PLKB, dan tim pendamping keluarga, penguatan inovasi Karlota serta kampanye kelompok terbatas, optimalisasi pelayanan KB pasca persalinan, serta sinergi lintas OPD dalam intervensi gizi, sanitasi, dan pola asuh. Selain itu, pendekatan hulu hingga hilir juga diterapkan, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, hingga balita.
“Dengan pendekatan siklus hidup ini, dampaknya lebih nyata dan berkelanjutan,” tegas Yani.
Dalam semangat Hari Kartini, Yani juga menekankan bahwa perempuan merupakan kunci keberhasilan program.
“Perempuan hari ini bukan hanya penerima manfaat, tetapi aktor utama perubahan,” ungkap Yani.
Kader perempuan menjadi ujung tombak edukasi, pendampingan, hingga deteksi dini stunting. Sementara di lingkungan keluarga, peran ibu sangat menentukan pola asuh dan pemenuhan gizi anak. Kelompok perempuan seperti PKK, dasawisma, kader posyandu, dan kader KB terbukti menjadi penggerak sosial yang efektif.
“Mereka yang memastikan program benar-benar hidup di masyarakat, bukan hanya di atas kertas,” kata Yani.
Meski berbagai prestasi berhasil diraih, Dinas PPKBPPPA menegaskan langkah ke depan tetap fokus pada dampak jangka panjang. Beberapa strategi lanjutan yang disiapkan antara lain penguatan kapasitas SDM dan pelatihan berkelanjutan, digitalisasi serta monitoring berbasis data real-time, penguatan kampung keluarga berkualitas dan PUSPAGA, kolaborasi dengan desa, dunia usaha, serta tokoh masyarakat, hingga kampanye perubahan perilaku terkait gizi dan kesehatan reproduksi.
“Orientasi kami bukan sekadar penghargaan, tetapi menyiapkan generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing,” tandas Yani.













