Kontras.id, (Sangihe) – Kesigapan tenaga kesehatan, dokter, hingga staf administrasi Rumah Sakit Daerah (RSD) Liun Kendage Tahuna saat mengevakuasi pasien ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, Senin 08/06/2026, patut mendapat apresiasi.
Begitu gempa pertama terjadi sekitar pukul 07.30 WITA, Direktur RSD Liun Kendage Tahuna, dr. Polideng Dalawir, langsung menginstruksikan seluruh tenaga medis dan pegawai rumah sakit untuk mengevakuasi pasien dari dalam gedung menuju lokasi yang lebih aman.
“Saat itu ada pasien yang dirawat di lantai 4, lantai 3, dan lantai 2. Sementara pasien rawat jalan juga mulai berdatangan untuk melakukan pendaftaran karena waktu sudah lewat pukul 07.30 WITA,” ujar Dalawir saat diwawancarai, Senin 08/06/2026.
Dalawir menjelaskan, proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien. Pasien yang masih mampu berjalan dievakuasi lebih dahulu, kemudian pasien pengguna kursi roda, disusul pasien yang menggunakan tempat tidur, hingga pasien yang masih memerlukan bantuan oksigen.
“Pasien yang bisa berjalan kaki dievakuasi lebih dulu. Setelah itu pasien dengan kursi roda, lalu pasien yang menggunakan tempat tidur, dan yang terakhir pasien yang menggunakan tempat tidur serta membawa oksigen,” jelasnya.
Menurut Dalawir, keterbatasan jumlah perawat yang sedang bertugas membuat seluruh sumber daya manusia rumah sakit harus turun tangan membantu proses evakuasi.
“Bukan hanya tenaga kesehatan, tetapi juga staf administrasi dan pegawai lainnya ikut membantu mendorong pasien keluar dari bangunan. Semua bekerja sama karena jumlah petugas jaga terbatas,” katanya.
Tantangan sempat muncul ketika gempa susulan terjadi setelah evakuasi pertama dilakukan. Saat situasi mulai kondusif, sebagian pasien yang masih memungkinkan dirawat di dalam gedung sempat dikembalikan ke ruang perawatan dengan posisi dekat akses keluar guna memudahkan evakuasi apabila terjadi gempa susulan.
“Setelah gempa pertama reda, pasien yang kondisinya memungkinkan dirawat kembali di ruangan masing-masing, namun ditempatkan dekat pintu keluar sebagai langkah antisipasi,” ungkap Dalawir.
Meski dihadapkan pada situasi darurat, Dalawir bersyukur seluruh proses evakuasi berjalan lancar dan seluruh pasien berhasil dipindahkan ke area aman.
“Puji Tuhan semua pasien berhasil dievakuasi keluar bangunan dengan aman sampai kemudian pimpinan daerah datang meninjau. Diawali kedatangan Pak Sekretaris Daerah, kemudian Pak Bupati bersama unsur Forkopimda,” tuturnya.
Ia menambahkan, kehadiran Bupati Kepulauan Sangihe memberikan dukungan moral bagi pasien maupun tenaga kesehatan yang masih diliputi kekhawatiran akibat gempa dan kemungkinan terjadinya gempa susulan.
“Pak Bupati memberikan penguatan secara moral karena setelah gempa utama biasanya masih ada gempa-gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil,” katanya.
Menurut Dalawir, Bupati juga mengingatkan seluruh pasien dan petugas medis agar tetap tenang serta mematuhi prosedur keselamatan yang berlaku apabila terjadi gempa susulan.
“Semua diminta tetap tenang dan siap menghadapi kemungkinan adanya gempa susulan dengan mengikuti protokol evakuasi yang berlaku,” ujarnya.
Terkait potensi tsunami, Dalawir menegaskan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir karena posisi RSD Liun Kendage berada di kawasan dataran tinggi.
“Untuk potensi tsunami, kami justru diuntungkan karena posisi rumah sakit berada di lokasi yang lebih tinggi,” ujarnya.
Saat ini sebagian besar pasien telah kembali ke ruang perawatan masing-masing. Namun, beberapa pasien masih memilih bertahan di tenda darurat yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di halaman rumah sakit.
“Pasien di lantai 4 dan lantai 3 sudah kembali ke ruang perawatan. Sementara sebagian pasien di lantai 2 masih memilih bertahan di tenda darurat yang dibangun oleh BPBD,” pungkasnya.










