Kontras.id, (Gorontalo) – Kondisi air sungai di Desa Payu dan Helumo, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, mulai tercemar. Situasi ini diduga kuat dipicu aktivitas alat berat jenis ekskavator pada Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Dusun Pasir Putih, Desa Pilomonu.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Payu, Hasni Tooli, bersama Kepala Desa Helumo, Habri Mahmud, kepada Kontras.id, Kamis 23/04/2026. Keduanya menyoroti dampak serius aktivitas pertambangan ilegal terhadap sektor pertanian dan kebutuhan warga.
Hasni menjelaskan, aktivitas alat berat di lokasi PETI telah berdampak langsung pada lahan pertanian, khususnya sawah yang mengandalkan air sungai di desanya.
“Jadi akibat aktivitas alat berat di pertambangan tersebut, para petani lahan basah jadi korban. Air sudah kabur dan tidak bisa digunakan utuk pengairan sawah,” ungkap Hasni via telepon WhatsApp.
Tak hanya petani, warga yang menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari juga ikut terdampak. Hasni menyebut, sejumlah warga mengalami gangguan kulit setelah memanfaatkan air tersebut.
“Bahkan masyarakat yang menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian terdampak juga pak, kulit meraka gatal-gatal usai mencuci pakaian,” ujar Hasni.
Ia menegaskan, sungai di sekitar lokasi PETI Dusun Pasir Putih merupakan satu-satunya sumber air bagi petani di dua desa tersebut.
“Jadi lahan pertanian yang terdampak ini pak ada dua desa, desa payu dan desa helumo,” kata Hasni.
Keluhan serupa juga disampaikan Kepala Desa Helumo, Habri Mahmud. Ia menilai aktivitas pertambangan emas ilegal dengan penggunaan alat berat telah memperparah kondisi sumber air yang menjadi penopang utama pertanian warga.
“Dengan adanya aktivitas pertambangan di dusun pasir putih, desa pilomonu yang mana kegiatan dengan menggunakan alat berat (escavator) berdampak air sungai yang dibutuhkan petani,” ungkap Habri via pesan whatsaap.
Menurutnya, penggunaan alat berat memicu penumpukan sedimen yang menyebabkan aliran air terganggu dan debitnya menurun.
“Air sungai saat ini sudah sangat berkurang, dikarenakan saluran air sudah banyak sedimen akibat pertambangan tersebut, dan juga mempengaruhi hasil pertanian,” tandas Habri.














