Kontras.id, (Gorontalo) – Gelombang duka atas wafatnya tokoh nasional asal Gorontalo, Rachmat Gobel, masih begitu terasa. Memasuki hari kelima sejak kepergiannya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Provinsi Gorontalo memadati lokasi pelaksanaan zikir, doa bersama, dan takziah yang digelar di pelataran Masjid Agung Baiturrahman Limboto, Kabupaten Gorontalo, Selasa 14/07/2026.
Kegiatan tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sosok yang dinilai telah memberikan banyak pengabdian bagi daerah.
Suasana penuh haru menyelimuti kegiatan tersebut. Warga dari berbagia Kabupaten se-Provinsi Gorontalo datang tanpa sekat, menyatukan doa untuk almarhum yang selama hidupnya dikenal memiliki perhatian besar terhadap kemajuan Gorontalo.
Yang menjadi perhatian, kegiatan itu lahir sepenuhnya dari inisiatif masyarakat. Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gorontalo hanya mengambil peran sebagai pendukung agar seluruh rangkaian acara dapat berlangsung dengan tertib dan lancar.
“Ini kegiatan yang digagas oleh masyarakat. Tidak hanya dari Kabupaten Gorontalo, tetapi juga dari Kota Gorontalo, Gorut, Boalemo hingga Bone Bolango, semua berkumpul di sini,” ujar Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi dalam sambutannya.
“Masyarakan hadir tanpa undangan resmi, ini betul-betul inisiatif warga dan dikoordinir oleh ibu-ibu takmir masjid. Kami dari pemerintah daerah sekadar ikut memfasilitasi,” sambung Sofyan.
Ia mengatakan bahwa bagi banyak orang, almarhum Rachmat Gobel bukan hanya dikenal sebagai tokoh nasional. Sosoknya juga dianggap sebagai figur yang dekat dengan masyarakat, tempat berbagi gagasan, sekaligus pribadi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan daerah. Kepergiannya meninggalkan kehilangan yang dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Sofyan turut mengisahkan momen terakhir komunikasi dengan almarhum. Cerita tersebut menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam rangkaian acara takziah.
“Satu hari sebelum meninggal, beliau menelepon saya. Hanya ada satu titipan beliau, yaitu menitipkan seluruh proses pembangunan yang sudah ia laksanakan. Beliau berpesan, ‘tolong titipkan, jaga dengan baik amanah saya ini untuk masyarakat Kabupaten Gorontalo,'” kenang Sofyan dengan nada emosional.
Menurutnya, pesan tersebut bukan sekadar amanah yang ditujukan kepada pemerintah daerah, tetapi juga menjadi tanggung jawab moral seluruh masyarakat Gorontalo agar hasil-hasil pembangunan yang telah dirintis tetap dijaga, dimanfaatkan, dan dilanjutkan untuk kepentingan generasi mendatang.
Sofyan juga mengungkapkan bahwa semasa hidupnya Rachmat Gobel kerap menyampaikan pandangan mengenai masa depan pembangunan Gorontalo. Berbagai program yang telah diwujudkan, baik di bidang pendidikan maupun pengembangan sumber daya manusia, menurut almarhum masih merupakan langkah awal dari cita-cita besar yang ingin diwujudkan.
“Menurut beliau, apa yang sudah dibangun itu baru sekitar 30 persen. Berarti masih ada 70 persen lagi tugas yang tersisa. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, terutama bagi kami di pemerintahan, untuk mengambil suri teladan dari ketulusan beliau dalam membangun daerah,” ujar Sofyan.
Pemerintah daerah pun berencana menjalin komunikasi dengan keluarga almarhum dalam waktu dekat untuk menyampaikan amanah yang pernah dititipkan. Harapannya, berbagai gagasan dan program yang telah dirancang Rachmat Gobel dapat terus dilanjutkan sehingga manfaatnya tetap dirasakan masyarakat Gorontalo pada masa yang akan datang.
Rangkaian doa dan takziah kemudian ditutup dengan ungkapan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang hadir. Kebersamaan ribuan warga dalam mendoakan almarhum menjadi gambaran kuat bahwa dedikasi dan pengabdian Rachmat Gobel telah meninggalkan jejak yang mendalam di hati masyarakat Gorontalo.














