Example floating
Example floating
AdvertorialDaerahPemerintahan

Sofyan Puhi Perkuat Adat Gorontalo, Pemangku Adat Diminta Kembali ke Pakem Leluhur

×

Sofyan Puhi Perkuat Adat Gorontalo, Pemangku Adat Diminta Kembali ke Pakem Leluhur

Sebarkan artikel ini
Sofyan Puhi
Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi saat membuka Bimtek Pohutu Lo Adati.di Aula Kantor Desa Payunga, Kecamatan Batudaa pada Kamis, 5 November 2026,(foto Humas Pemkab).

Kontras.id, (Kabupaten Gorontalo) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo terus berupaya menjaga eksistensi adat dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman. Salah satu langkah yang dilakukan yakni memperkuat pemahaman para pemangku adat mengenai tata pelaksanaan upacara adat melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pohutu Lo Adati.

Kegiatan yang diperuntukkan bagi Buatulo To Ulongo atau pemangku dan pelaksana adat tersebut dibuka langsung Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi di Aula Kantor Desa Payunga, Kecamatan Batudaa, Kamis 05/11/2026.

Bimtek yang digagas Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) itu diarahkan untuk menyatukan pemahaman mengenai tata cara pelaksanaan upacara adat di seluruh wilayah Kabupaten Gorontalo. Upaya tersebut dinilai penting agar tradisi yang diwariskan leluhur tetap terjaga dan tidak mengalami perubahan akibat perbedaan penafsiran.

Dalam arahannya, Sofyan menegaskan bahwa kegiatan tersebut harus dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran teknis bagi para pemangku adat. Ia meminta seluruh peserta menjadikan hasil Seminar Adat Gorontalo tahun 2007 sebagai rujukan utama dalam memahami dan menjalankan ketentuan adat.

“Pedoman hasil seminar 2007 ini adalah pegangan utama kita. Memang belum sempurna, tapi inilah acuan bersama untuk menjaga keseragaman praktik adat. Ke depan, tentu selalu ada ruang untuk penyempurnaan menyesuaikan dengan dinamika zaman,” tegas Sofyan.

Menurutnya, keberadaan pedoman tersebut perlu terus disosialisasikan mengingat sebagian besar peserta yang terlibat dalam perumusan ketentuan adat pada 2007 telah meninggal dunia. Dari total 211 orang yang mengikuti proses perumusan saat itu, regenerasi pengetahuan menjadi kebutuhan mendesak agar pemahaman mengenai Pohutu Lo Adati tidak terputus.

Sofyan mengingatkan, tanpa proses pewarisan pengetahuan yang berkelanjutan, pelaksanaan adat berpotensi mengalami perbedaan pemahaman di tengah masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas para pemangku adat menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan kesamaan tata cara dan makna setiap prosesi adat.

Selain menekankan keseragaman pelaksanaan, Bupati juga mengingatkan bahwa adat Gorontalo memiliki hubungan erat dengan nilai-nilai keislaman. Setiap prosesi adat, kata dia, harus tetap berlandaskan falsafah masyarakat Gorontalo, yakni Adati Hula-hula’a To Syara’a, Syara’a Hula-hula’a To Kitabullah yang bermakna adat bersendikan syarak dan syarak bersendikan Kitabullah.

Ia juga mendorong agar pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan tersebut tidak berhenti pada kalangan pemangku adat. Para peserta diharapkan meneruskan pemahaman mengenai tradisi dan nilai budaya kepada generasi muda sebagai penerus warisan leluhur.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Kesra Kabupaten Gorontalo, Mulyadi Domili menilai, Bimtek tersebut menjadi bagian penting dalam menyelaraskan pemahaman pelaksanaan Pohutu Lo Adati hingga tingkat kecamatan.

“Bimtek ini adalah jawaban atas kebutuhan penyelarasan persepsi Pohutu Lo Adati di tingkat kecamatan. Kita ingin keluhuran adat ini terus lestari sebagai identitas sejati masyarakat Gorontalo,” ujar Mulyadi.

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Kecamatan, para Bate atau tokoh adat utama, Imam Kecamatan, serta camat dari lima wilayah, yakni Batuda’a, Batuda’a Pantai, Bongomeme, Tabongo, dan Biluhu.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Gorontalo menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Penguatan pemahaman adat diharapkan mampu menjaga identitas masyarakat Gorontalo sekaligus memastikan nilai-nilai warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Share:  
Example 120x600