Kontras.id, (Kabupaten Gorontalo) – Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi meminta seluruh kepala sekolah tingkat SD dan SMP di daerah itu mengikuti orientasi kepalangmerahan.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) sekaligus menjadikan nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, dan kerelawanan sebagai bagian dari kehidupan sekolah.
Penegasan itu disampaikan Sofyan saat membuka Orientasi Kepalangmerahan bagi Kepala SD dan SMP se-Kabupaten Gorontalo, Selasa 21/07/2026. Sebagai Pelindung PMI Kabupaten Gorontalo, ia menilai kepala sekolah perlu memiliki pemahaman dasar mengenai kepalangmerahan.
Sebab, sekolah menjadi salah satu pusat pembinaan PMR. Karena itu, kepala sekolah dinilai tidak cukup hanya mengetahui keberadaan organisasi tersebut, tetapi juga harus mampu mendorong kegiatan PMR agar memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter siswa.
Orientasi tersebut diikuti 361 kepala sekolah yang pelaksanaannya dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama mencakup peserta dari 11 kecamatan, sedangkan sesi berikutnya melibatkan kepala sekolah dari delapan kecamatan.
Kegiatan turut dihadiri 21 pengurus PMI Kabupaten Gorontalo, 19 Korwil Pendidikan, serta 19 Ketua PMI Kecamatan. Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gorontalo yang juga menjabat Ketua Dewan Kehormatan PMI Kabupaten Gorontalo dan Ketua PMI Kabupaten Gorontalo Zulfikar Usira turut hadir dalam kegiatan tersebut.
“Sekolah adalah pangkalan PMR. Karena itu kepala sekolah harus memahami kepalangmerahan agar mampu menjadikan kegiatan PMR sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik,” tegas Sofyan.
Bupati menilai pendidikan kepalangmerahan memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar pembelajaran teknis. Di dalamnya terdapat pembentukan empati, kepedulian terhadap sesama, jiwa sukarela, serta pemahaman mengenai nilai-nilai kemanusiaan.
Untuk memperkuat pelaksanaannya, Sofyan memberikan instruksi kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan agar seluruh kepala sekolah dapat mengikuti orientasi tersebut dalam waktu satu tahun.
Tak hanya sebatas keikutsertaan, orientasi kepalangmerahan juga akan menjadi salah satu aspek dalam evaluasi kepala sekolah. Langkah ini diharapkan membuat pembinaan PMR di masing-masing sekolah berjalan secara lebih terarah.
Bupati juga menetapkan dua arahan lainnya. Setiap sekolah diminta memiliki minimal seorang guru yang telah mengikuti orientasi dan dapat berperan sebagai pelatih kepalangmerahan.
Selain itu, kegiatan PMR diminta lebih dioptimalkan. Aktivitas kepalangmerahan dapat dilaksanakan setiap Rabu sehingga penggunaan seragam PMR tidak berhenti pada simbol atau rutinitas, melainkan diikuti kegiatan yang memberi manfaat nyata bagi siswa.
Ketua PMI Kabupaten Gorontalo Zulfikar Usira menyambut baik dukungan pemerintah daerah terhadap pembinaan PMR dan penguatan PMI di Kabupaten Gorontalo.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati selaku Pelindung PMI Kabupaten Gorontalo yang telah hadir, memberikan arahan, sekaligus membuka kegiatan orientasi ini. Dukungan ini menjadi motivasi besar bagi PMI untuk terus meningkatkan pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat,” ujar Zulfikar.
Di tengah agenda penguatan PMR tersebut, PMI Kabupaten Gorontalo juga mengungkap persoalan kebutuhan darah yang masih menjadi perhatian. Hingga kini, daerah tersebut belum memiliki Unit Transfusi Darah (UTD) mandiri.
Padahal, kebutuhan darah di Kabupaten Gorontalo diperkirakan mencapai 1.400 hingga 1.500 kantong setiap bulan. Darah tersebut dibutuhkan untuk berbagai layanan medis, termasuk kondisi darurat dan pasien yang menjalani persalinan.
PMI Kabupaten Gorontalo berencana berkoordinasi dengan PMI Pusat untuk mendorong pembangunan UTD. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat membuat pelayanan dan pemenuhan kebutuhan darah masyarakat lebih optimal.
Sofyan Puhi pun menyatakan pemerintah daerah siap memberikan dukungan sesuai kewenangan yang dimiliki untuk mendukung terwujudnya UTD di Kabupaten Gorontalo.
Bagi pemerintah daerah, ketersediaan fasilitas transfusi darah merupakan kebutuhan penting dalam mendukung pelayanan kesehatan. Karena itu, penguatan PMI dan budaya donor darah dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembinaan PMR di sekolah.
Melalui kebijakan tersebut, Pemkab Gorontalo berharap sekolah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, jiwa kerelawanan, serta kesiapan membantu masyarakat dalam situasi yang membutuhkan.














