Example floating
Example floating
AdvertorialDaerahPendidikanTokoh

Buku “Binadou” Mengangkat Jejak Tiga Kerajaan Diluncurkan, Hadiah Anak Daerah untuk HUT Boltara

×

Buku “Binadou” Mengangkat Jejak Tiga Kerajaan Diluncurkan, Hadiah Anak Daerah untuk HUT Boltara

Sebarkan artikel ini
Buku “Binadou”
Buku “Binadou” yang Mengangkat Jejak Tiga Kerajaan hasil karya putra putri Boltara,(foto Istimewa).

Kontras.id, (Boltara) – Momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara) tahun ini mendapat hadiah istimewa dari putra-putri daerah melalui lahirnya sebuah karya intelektual yang mengangkat sejarah dan kebudayaan pesisir utara Sulawesi.

Buku berjudul Binadou dan Jaringan Kebudayaan dalam Jalur Rempah Nusantara resmi diperkenalkan sebagai bagian dari upaya serius mendokumentasikan jejak sejarah tiga kerajaan tua yang pernah berpengaruh di wilayah tersebut, yakni Bintauna, Bolangitang, dan Kaidipang.

Karya ini dieditori sekaligus ditulis oleh M. Ersad Mamonto bersama sejumlah penulis muda daerah, yaitu Nasar Lundeto, Rian H. Laurestabo, Rahmat J. Buhang, Zafria Mahyun, Asriadi Lakoro, Eldi Khairul Akbar, Faiz Muhamad Anis Kaba, dan Annita I. Mokodongan.

Istilah “Binadou” sendiri digunakan sebagai representasi identitas tiga kerajaan bersejarah di Boltara, yakni Bolangitang, Bintauna, dan Dou atau Kaidipang. Melalui buku ini, para penulis berupaya mengurai kembali keterhubungan kawasan pesisir utara Sulawesi dengan dinamika besar Jalur Rempah Nusantara yang pernah menjadi denyut perdagangan dan pertukaran budaya masa lampau.

Editor buku, Ersad Mamonto menjelaskan bahwa lahirnya karya tersebut berangkat dari kegelisahan generasi muda terhadap minimnya dokumentasi sejarah lokal yang ditulis dari perspektif masyarakat daerah sendiri.

“Selama ini sejarah daerah sering hanya menjadi catatan pinggiran. Padahal wilayah pesisir utara Sulawesi memiliki posisi penting dalam jaringan perdagangan dan pertukaran budaya Nusantara sejak masa lampau,” ujar Ersad.

Menurutnya, Binadou bukan sekadar istilah geografis atau akronim dari tiga kerajaan, tetapi juga simbol akar kebudayaan masyarakat Bolaang Mongondow Utara yang terbentuk melalui proses panjang interaksi maritim dan lintas budaya.

Apresiasi atas terbitnya buku ini juga datang dari Bupati Boltara, Sirajudin Lasena. Dalam kata pengantarnya, ia menilai kehadiran buku tersebut sebagai langkah penting dalam pelestarian sejarah sekaligus penguatan identitas lokal masyarakat Boltara.

“Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga buku Binadou dan Jaringan Kebudayaan dalam Jalur Rempah Nusantara ini dapat disusun dan diterbitkan,” tulis Sirajudin.

Ia menegaskan bahwa letak geografis Boltara yang berada di kawasan pesisir telah menjadikan daerah itu sejak lama terbuka terhadap arus perdagangan dan pertukaran budaya. Kondisi tersebut turut membentuk karakter masyarakat yang beragam, dinamis, dan kaya akan warisan budaya.

“Buku ini menjadi bagian penting untuk memperkuat kesadaran sejarah sekaligus memperkaya dokumentasi kebudayaan daerah,” ujar Sirajudin.

Dukungan juga datang dari Dekan Fakultas Islam Nusantara UNUSIA Jakarta sekaligus Fellow China Confucius Foundation & Nishan World Center for Confucius Studies, Jinan City, Shandong Province, China 2026–2027, Ahmad Suaedy.

Ahmad Suaedy menyebut buku tersebut sebagai kontribusi penting dalam memperkaya penulisan sejarah lokal di Indonesia. Menurutnya, para penulis berhasil menunjukkan bahwa wilayah pesisir utara Sulawesi bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan simpul penting peradaban yang turut membentuk identitas Nusantara.

“Ini karya yang penting dan menantang untuk terus diteliti, terutama dalam konteks sejarah maritim,” kata Ahmad.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Wuri Handoko. Ia menilai buku ini berhasil mengisi kekosongan dalam historiografi maritim Nusantara yang selama ini terlalu berfokus pada pelabuhan besar dan pusat-pusat perdagangan utama.

Menurutnya, konsep Binadou membuktikan bahwa di luar pusat niaga besar, terdapat narasi peradaban yang kaya dan layak mendapat perhatian lebih luas dari para peneliti maupun masyarakat.

“Buku ini menunjukkan bahwa Bolaang Mongondow Utara memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang belum banyak diungkap,” ujar Wuri.

Buku yang diterbitkan oleh Bulandu Pustaka, Binadou dan Jaringan Kebudayaan dalam Jalur Rempah Nusantara kini menjadi salah satu karya literasi daerah yang diharapkan mampu membuka ruang diskusi baru mengenai sejarah maritim, identitas lokal, serta kebudayaan masyarakat pesisir utara Sulawesi.

Lebih dari sekadar sebuah buku, karya ini menjadi hadiah intelektual bagi HUT Boltara sebuah pengingat bahwa daerah kecil di pesisir utara Sulawesi pernah menjadi bagian penting dari denyut besar peradaban Nusantara.

Share:  
Example 120x600