Penulis: Yasin (Wartawan Olahraga).
Kontras.id, (Opini) – 9 September seharusnya bukan sekadar tanggal di kalender olahraga. Hari Olahraga Nasional (Haornas) mestinya menjadi hari ketika atlet, pelatih, wasit, pembina, hingga seluruh pelaku olahraga berdiri di panggung kehormatan. Hari untuk mengingat perjuangan, menghargai pengorbanan, dan merayakan prestasi.
Namun, suasana Haornas tahun ini di Gorontalo terasa berbeda. Tak seperti daerah lain yang menyambut Haornas dengan berbagai kegiatan, seremoni dan penghargaan, momentum yang seharusnya menjadi “lebarannya” insan olahraga itu justru terasa berjalan biasa saja.
Tak ada kemeriahan yang berarti. Tak ada panggung penghargaan untuk mereka yang selama ini mengharumkan nama daerah. Yang terdengar dan terlihat hanya ucapan Haornas dari sejumlah tokoh di media sosial.
Tentu, efisiensi anggaran menjadi bagian dari kondisi yang harus dipahami. Namun, efisiensi semestinya tidak berarti menghilangkan penghargaan terhadap perjuangan para atlet dan pelatih.
Sebab, mereka tidak pernah meminta diperlakukan istimewa. Mereka hanya ingin perjuangannya dilihat. Mereka ingin prestasinya dihargai. Dan yang paling penting, mereka ingin tahu bahwa daerah ini masih memiliki kepedulian terhadap masa depan mereka.
Mereka yang Membawa Nama Gorontalo
Coba kita lihat apa yang telah diberikan insan olahraga kepada Gorontalo. Gorontalo bukan daerah yang miskin potensi olahraga. Justru sebaliknya, daerah ini memiliki banyak talenta yang mampu berbicara di tingkat nasional, bahkan internasional.
Sepak takraw adalah salah satu bukti paling nyata. Dua dekade lalu, Gorontalo mungkin masih berada di bawah bayang-bayang daerah lain, termasuk Sulawesi Selatan. Tetapi hari ini kondisinya berbeda. Gorontalo telah menjelma menjadi salah satu kiblat sepak takraw Indonesia.
Atlet-atletnya tampil di tingkat nasional dan Asia. Pelatih-pelatihnya dipercaya membina atlet di level lebih tinggi. Nama Gorontalo pun ikut terangkat bersama prestasi mereka.
Itu bukan prestasi yang lahir dalam semalam. Ada latihan panjang, keringat, air mata, pengorbanan keluarga, biaya, bahkan masa muda yang dikorbankan demi mengejar prestasi. Dan semua itu dilakukan dengan satu kebanggaan: membawa nama Gorontalo.
Bukan Hanya Sepak Takraw
Wajah olahraga Gorontalo tentu tidak hanya sepak takraw. Taekwondo dalam satu dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang sangat menjanjikan. Atlet-atlet Gorontalo mampu bersaing di PON, kejurnas, bahkan mendapatkan kepercayaan memperkuat tim nasional.
Begitu pula karate. Gorontalo kini memiliki atlet yang mampu menembus persaingan dunia di kelompok junior. Prestasi internasional telah diraih dan nama daerah ikut disebut di pentas global.
Belum lagi cabang olahraga lainnya seperti pencak silat, atletik, renang, tenis meja, menembak, anggar dan berbagai cabang olahraga yang terus melahirkan atlet berprestasi.
Mungkin tidak semuanya mendapatkan sorotan media. Namun satu hal yang sama: mereka berjuang membawa nama daerah.
Prestasi Ada, Apresiasi yang Dipertanyakan
Di sinilah pertanyaan besar Haornas tahun ini seharusnya muncul. Apakah kita sudah cukup menghargai mereka?
Gorontalo sebenarnya tidak kekurangan potensi. Persoalannya adalah bagaimana memastikan potensi itu mendapatkan ruang untuk berkembang dan setelah menghasilkan prestasi, mereka mendapatkan penghargaan yang layak.
Kita pernah memiliki cerita tentang atlet berprestasi yang mendapatkan apresiasi melalui program pemerintah, termasuk kesempatan menjadi aparatur sipil negara.
Program semacam itu bukan sekadar soal pekerjaan. Bagi seorang atlet, itu adalah bentuk penghargaan negara atas pengorbanan yang telah mereka berikan.
Sebab karier atlet memiliki batas waktu. Hari ini mereka berjaya di arena. Namun beberapa tahun kemudian, mereka harus memikirkan kehidupan setelah pensiun dari dunia kompetisi.
Karena itu, apresiasi terhadap atlet seharusnya tidak berhenti ketika mereka berdiri di podium dan menerima medali.
Haornas Harus Menjadi Titik Balik
Mungkin Haornas tahun ini memang tidak dirayakan secara besar-besaran. Mungkin keterbatasan anggaran membuat banyak kegiatan harus disederhanakan.
Tidak apa-apa. Namun jangan sampai semangat olahraga ikut disederhanakan. Justru momentum Haornas 2026 harus menjadi titik balik bagi Gorontalo untuk kembali menata sistem olahraga secara lebih serius.
Bukan sekadar bagaimana melahirkan juara. Tetapi bagaimana memastikan atlet memiliki masa depan. Bagaimana pelatih mendapatkan penghargaan yang layak. Bagaimana wasit dan tenaga pendukung olahraga mendapatkan ruang.
Bagaimana pembinaan usia dini diperkuat. Dan bagaimana prestasi olahraga bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi daerah.
Olahraga hari ini bukan hanya soal menang dan kalah. Olahraga bisa menjadi industri. Bisa menjadi sport tourism. Bisa membuka lapangan pekerjaan. Bisa menggerakkan UMKM.
Bisa mendatangkan wisatawan. Dan tentu saja bisa menjadi alat diplomasi daerah untuk memperkenalkan Gorontalo kepada Indonesia dan dunia.
Saatnya Bergandengan Tangan
Karena itu, Haornas 2026 jangan hanya menjadi peringatan tahunan. Mari jadikan 9 September sebagai start baru olahraga Gorontalo.
Pemerintah, KONI, federasi olahraga, klub, sekolah, dunia usaha, media dan masyarakat harus berjalan bersama.
Tidak perlu saling menyalahkan. Tidak perlu mencari siapa yang paling berjasa.
Yang diperlukan adalah satu tujuan: membangun ekosistem olahraga Gorontalo yang sehat, berprestasi dan mampu memberikan masa depan bagi para pelakunya.
Sebab di balik setiap medali ada atlet yang berlatih. Di balik setiap kemenangan ada pelatih yang membimbing. Di balik setiap pertandingan ada wasit yang menjaga sportivitas. Dan di balik setiap prestasi ada keluarga serta masyarakat yang memberikan dukungan.
Mereka mungkin tidak meminta panggung. Tetapi pada Haornas, setidaknya jangan biarkan perjuangan mereka berlalu tanpa penghargaan.
Selamat Hari Olahraga Nasional ke-43. 9 September 2026.
Semoga Haornas bukan hanya tentang olahraga yang membuat masyarakat sehat dan bugar, tetapi juga tentang bagaimana olahraga mampu membuat atlet sejahtera, menggerakkan ekonomi rakyat, membuka pintu sport tourism, dan mengangkat nama Gorontalo lebih tinggi lagi.
Karena hari ini seharusnya memang menjadi hari mereka-para pejuang olahraga Gorontalo.(*).











