Kontras.id, (Makassar) – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, mendorong penguatan kebijakan kesehatan berbasis riset saat menghadiri PAIR Sulawesi Annual Meeting yang berlangsung di Hotel Unhas, Makassar, pada 20–23 Juli 2026. Forum internasional tersebut mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan mitra internasional untuk membahas hasil-hasil penelitian strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan Sulawesi.
Dalam forum tersebut, salah satu hasil penelitian yang dipaparkan berkaitan dengan transisi energi bersih, perubahan iklim, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Biluhu, Kabupaten Gorontalo, oleh tim peneliti dari perguruan tinggi di Australia dan Indonesia menunjukkan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan primer di wilayah pesisir memerlukan sistem layanan yang tangguh terhadap perubahan iklim.
Keandalan pelayanan kesehatan, menurut hasil penelitian tersebut, tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, tetapi juga oleh keterpaduan sistem air bersih, sanitasi, energi, dan bangunan yang mampu berfungsi secara optimal setiap hari. Temuan itu diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan daerah untuk mewujudkan puskesmas yang tangguh terhadap perubahan iklim, rendah karbon, serta mampu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Pertemuan tahunan itu turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi dari Indonesia dan Australia. Sambutan kehormatan disampaikan oleh Counsellor of Knowledge, Innovation and Humanitarian Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Paula Gerhardt, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Fauzan Adziman, perwakilan LPDP Ayom Widipaminto, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, serta Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail memaparkan visi Pemerintah Provinsi Gorontalo dalam mewujudkan transisi energi bersih sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan yang tetap memperhatikan aspek lingkungan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Gubernur Gorontalo juga tampil sebagai pembicara pada sesi talkshow bertema “Transisi Energi Bersih” bersama Sherah Kurnia dari University of Melbourne, Nizam dari Universitas Gadjah Mada, Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Utara Elvira Katuuk, Felia Salim dari Global Energy Alliance for People and Planet (GEAPP), serta Yos Sunitiyoso dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Diskusi dipandu oleh Monica Agnes Sylvia dari Australia-Indonesia Centre.
Anang S. Otoluwa mengatakan, keterlibatan Gorontalo dalam forum internasional tersebut menjadi peluang penting untuk memperkuat pemanfaatan hasil riset sebagai dasar penyusunan kebijakan kesehatan yang berbasis bukti.
“Perubahan iklim telah menjadi tantangan nyata bagi sektor kesehatan. Karena itu, hasil penelitian seperti ini perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang mampu melindungi kesehatan masyarakat,” kata Anang.
Ia menambahkan, penelitian yang dilaksanakan di Puskesmas Biluhu memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara transisi energi, lingkungan, dan kesehatan masyarakat di tingkat lokal.
“Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional merupakan modal penting dalam menghasilkan inovasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan daerah,” tambahnya.
Menurut Anang, Pemerintah Provinsi Gorontalo berkomitmen mendukung implementasi hasil penelitian agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penguatan pelayanan kesehatan dan pembangunan yang berkelanjutan.
“Kami berharap rekomendasi dari penelitian ini dapat diimplementasikan dalam kebijakan daerah sehingga pembangunan sektor kesehatan semakin adaptif terhadap perubahan iklim dan sejalan dengan visi transisi energi bersih yang diusung Pemerintah Provinsi Gorontalo,” pungkas Anang.














