Kontras.id, (Kota Gorontalo) – Pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar (BIK) yang berlangsung serentak pada 1–31 Oktober 2026 telah berakhir dengan capaian positif di Provinsi Gorontalo. Kabupaten Gorontalo berhasil mencatatkan capaian tertinggi di tingkat provinsi sekaligus masuk dalam tiga besar terbaik nasional, dengan realisasi imunisasi mencapai 87 persen atau sebanyak 1.979 anak dari total sasaran 2.275 anak.
Bulan Imunisasi Kejar merupakan program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang bertujuan meningkatkan perlindungan anak dari Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), khususnya bagi bayi dan anak bawah dua tahun (baduta) yang belum memperoleh imunisasi sesuai jadwal.
Sasaran program ini meliputi bayi usia 0–11 bulan dan baduta usia 12–23 bulan dengan status imunisasi belum lengkap, termasuk anak zero dose atau belum pernah mendapatkan imunisasi DPT-HB-Hib dosis pertama.
Di Provinsi Gorontalo, pelaksanaan BIK dipusatkan pada pelayanan di Posyandu, Puskesmas, dan fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di enam kabupaten/kota. Pelayanan tersebut diperkuat dengan kegiatan penjangkauan langsung untuk menemukan anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi sesuai ketentuan.
Berdasarkan data ASIK/Dashboard Kementerian Kesehatan per 31 Oktober 2026, capaian Kabupaten Gorontalo menjadi salah satu hasil yang menonjol dalam pelaksanaan BIK secara nasional. Keberhasilan tersebut didukung kerja bersama petugas Puskesmas, bidan desa, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK, serta unsur lintas sektor yang aktif melakukan sweeping, penyisiran dari rumah ke rumah, dan pelayanan imunisasi di Posyandu sepanjang Oktober.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, dalam keterangannya Kamis (05/11/2026), menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan dan pihak terkait yang telah bekerja menjangkau anak-anak sasaran imunisasi. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi dan komitmen bersama dalam memastikan setiap anak memperoleh hak atas perlindungan kesehatan.
“Apresiasi kepada seluruh petugas kesehatan, kader Posyandu, PKK, pemerintah daerah, dan lintas sektor yang telah bekerja keras selama pelaksanaan Bulan Imunisasi Kejar. Capaian ini patut kita syukuri, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti,” tegas Anang.
“Berakhirnya BIK bukan berarti berakhirnya upaya kita. Anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap tetap harus ditemukan dan dilayani. Tidak ada kata terlambat untuk imunisasi, kita harus terus melakukan penyisiran sampai seluruh anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal,” sambung Anang.
Ia juga menekankan bahwa keberlanjutan pelayanan imunisasi rutin menjadi bagian penting dalam mempertahankan capaian yang telah diraih. Petugas kesehatan diharapkan terus memperkuat pendataan, pemantauan status imunisasi, serta koordinasi dengan pemerintah desa, kader, dan keluarga agar tidak ada anak yang terlewat dari pelayanan imunisasi.
Capaian BIK ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kekebalan anak terhadap berbagai penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk campak, rubella, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio, dan pneumonia.
Pemprov Gorontalo berkomitmen melanjutkan penguatan imunisasi rutin dan penjangkauan sasaran guna mendukung percepatan eliminasi campak dan rubella serta mewujudkan generasi yang lebih sehat dan terlindungi dari ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.














