Kontras.id, (Gorontalo) – Menjelang pelaksanaan Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) ke-XVII yang dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026, Komisi II DPRD Kabupaten Gorontalo menggelar rapat kerja bersama Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Limutu, Senin 13/4/2026. Pertemuan ini difokuskan pada kesiapan penyediaan air bersih bagi para peserta.
Rapat yang berlangsung di ruang Komisi II tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi II, Arifin Kilo, serta dihadiri Direktur Perumda Tirta Limutu, Tomy Hendra Said, bersama jajaran dan anggota dewan lainnya.
Dalam pembahasan, DPRD menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur dasar, khususnya layanan air bersih, mengingat skala kegiatan yang akan diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Arifin Kilo menegaskan bahwa status Kabupaten Gorontalo sebagai tuan rumah harus diimbangi dengan kualitas pelayanan yang optimal, terutama dalam menjamin kebutuhan air bagi seluruh tamu yang hadir.
Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai puluhan ribu orang menjadikan ketersediaan air bersih sebagai faktor vital yang tidak boleh diabaikan.
“Sebagai tuan rumah, kita harus memberikan fasilitas terbaik. Jangan sampai kita justru kekurangan air. Ini menyangkut nama baik daerah,” tegas Arifin.
Ia juga memastikan bahwa Komisi II akan terus melakukan pengawasan terhadap kinerja Perumda Tirta Limutu agar distribusi air selama kegiatan berlangsung berjalan tanpa kendala.
Di sisi lain, Direktur Perumda Tirta Limutu, Tomy Hendra Said menyampaikan bahwa pihaknya saat ini tengah melakukan pendataan langsung di lapangan, khususnya pada lokasi-lokasi yang akan digunakan sebagai pemondokan kontingen.
Ia mengatakan, sekitar 6.000 titik pemondokan yang tersebar di lima kecamatan sedang dipetakan untuk mengetahui jangkauan layanan jaringan air bersih yang tersedia.
“Kami sementara turun ke lapangan untuk mengidentifikasi wilayah mana saja yang terlayani jaringan PDAM dan mana yang belum,” ujar Tomy.
Selain itu, tim Perumda juga telah meninjau sejumlah titik, di antaranya Kelurahan Kayu Merah dan Desa Ulapato, yang masuk dalam lokasi pemondokan peserta. Dengan estimasi kehadiran sekitar 30 ribu peserta, Tomy mengakui tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks dibandingkan kegiatan sebelumnya.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan semua stakeholder agar pelayanan air bisa maksimal,” jelas Tomy.
Saat ini, Perumda Tirta Limutu turut mengoptimalkan kapasitas produksi instalasi pengolahan air di beberapa wilayah, seperti Limboto, Limboto Barat, dan Telaga, agar mampu memenuhi lonjakan kebutuhan selama kegiatan berlangsung.
Tomy menargetkan seluruh proses pendataan dan pemetaan selesai pada April 2026, sehingga langkah teknis dapat segera diimplementasikan secara menyeluruh.
“Target kami bulan April ini semua lokasi sudah terpetakan dengan jelas, sehingga kesiapan bisa benar-benar matang,” tandas Tomy.














