Kontras.id, (Kota Gorontalo) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo terus mengintensifkan langkah percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) melalui penguatan promosi kesehatan yang menyasar masyarakat secara langsung.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa, saat memberikan arahan dalam Pertemuan Fasilitasi Percepatan Kinerja Tim Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas untuk Pemberdayaan Ibu Hamil dan Penurunan AKI, yang berlangsung di Grand Q Hotel, Kota Gorontalo, Jumat (13/03/2026).
Dalam kesempatan itu, Anang menegaskan bahwa promosi kesehatan memiliki peran penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam meningkatkan kesadaran ibu hamil dan keluarga mengenai pentingnya pemeriksaan kehamilan serta kesiapan menghadapi berbagai risiko selama masa kehamilan.
Ia juga mengungkapkan bahwa kondisi kasus kematian ibu di Provinsi Gorontalo masih membutuhkan perhatian serius dan penanganan cepat dari seluruh pihak terkait. Tenaga promosi kesehatan di tingkat kabupaten/kota hingga desa diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam mengedukasi masyarakat.
Berdasarkan data hingga awal Maret 2026, tercatat sebanyak 10 kasus kematian ibu terjadi di Provinsi Gorontalo. Angka tersebut hampir mencapai setengah dari batas maksimal kasus kematian ibu yang ditargetkan sepanjang tahun ini.
Menurut Anang, situasi tersebut harus menjadi peringatan bagi seluruh tenaga kesehatan agar memperkuat upaya pencegahan dari hulu, termasuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat, mempercepat deteksi dini terhadap risiko kehamilan, serta melibatkan keluarga dalam menjaga keselamatan ibu hamil.
“Melalui gerakan 100 hari penyelamatan ibu hamil, kita ingin memastikan tidak ada lagi ibu yang kehilangan nyawa karena keterlambatan mengenali tanda bahaya, terlambat mengambil keputusan, atau terlambat mendapatkan pelayanan. Setiap kematian ibu seharusnya bisa dicegah jika kita bergerak lebih cepat, lebih terkoordinasi, dan lebih dekat dengan masyarakat,” ujar Anang.
Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut akan difokuskan pada berbagai aktivitas promosi kesehatan di tengah masyarakat. Kegiatan yang dilakukan meliputi pendataan ibu hamil, pemetaan kondisi kehamilan, edukasi mengenai tanda bahaya, penguatan kelas ibu hamil, kampanye persalinan aman, hingga kunjungan rumah bagi ibu hamil yang memiliki risiko tinggi.
Selain melibatkan tenaga kesehatan, program ini juga mendorong partisipasi keluarga, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta pemerintah desa agar bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih peduli terhadap keselamatan ibu hamil.
Anang berharap penguatan promosi kesehatan yang dilakukan secara sistematis dan berbasis data dapat membuat upaya penurunan AKI di Provinsi Gorontalo berjalan lebih efektif. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu sejak masa kehamilan hingga proses persalinan.
“Tenaga promosi kesehatan harus menjadi penggerak perubahan perilaku masyarakat. Edukasi harus sampai ke rumah tangga, ke keluarga, dan ke desa-desa, sehingga setiap ibu hamil mendapatkan dukungan penuh untuk menjalani kehamilan yang aman,” pungkasnya.








