Kontras.id, (Boltara) – Kondisi memprihatinkan masih menyelimuti Jalan Pimpi–Huntuk di Kecamatan Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara). Sejak dibangun pada 2010, jalan tersebut kini justru mengalami kerusakan parah tanpa penanganan yang berarti.
Berdasarkan hasil pantauan lapangan, hampir seluruh ruas jalan berada dalam kondisi rusak berat. Permukaan jalan dipenuhi lubang, sementara struktur badan jalan sudah tidak lagi layak dilalui kendaraan.
Kerusakan juga terjadi pada dua plat duiker yang terlihat tidak berfungsi optimal. Kondisi ini semakin memperburuk akses, hingga jalan tersebut lebih menyerupai jalur rusak daripada penghubung antar desa.
Di beberapa titik, lapisan aspal bahkan telah hilang sepenuhnya. Akibatnya, badan jalan berubah menjadi tanah yang mudah becek saat hujan dan berdebu saat musim kemarau.
Padahal, Jalan Pimpi–Huntuk merupakan akses vital bagi masyarakat Desa Huntuk, sekaligus jalur utama distribusi hasil pertanian warga di Kecamatan Bintauna. Berbagai komoditas unggulan seperti padi, jagung, cabai, kelapa, pucuk palem hingga kayu selama ini bergantung pada jalur tersebut untuk dipasarkan ke luar desa.
Salah satu warga Desa Huntuk, Wiryokusmo Bembu (52) mengungkapkan bahwa kondisi jalan ini sudah lama rusak dan nyaris tidak pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.
“Jalan ini sering dilewati masyarakat yang berkebun. Semua hasil pertanian keluar lewat sini,” ujar Wiryokusmo, Senin 13/04/2026.
Ia menjelaskan, kerusakan jalan dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari usia infrastruktur yang sudah tua, sistem drainase yang tidak memadai, hingga tingginya curah hujan di wilayah tersebut. Menurutnya, kondisi jalan semakin memburuk setelah banjir bandang yang melanda Desa Huntuk pada 4 Maret 2020. Namun hingga kini, belum terlihat adanya upaya perbaikan yang konkret.
“Setelah banjir itu, jalan tidak pernah diperbaiki,” tegas Wiryokusmo.
Situasi ini memperkuat anggapan masyarakat bahwa jalan Pimpi–Huntuk seolah dibiarkan tanpa solusi nyata selama bertahun-tahun. Masyarakat pun mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah maupun provinsi dalam menangani persoalan infrastruktur, khususnya di wilayah pedesaan.
Baca Juga: Diduga WNA Asal China Berinvestasi di PETI Desa Huntuk Bolmut, Kades Bilang Begini..
Selama ini, belum ada program perbaikan menyeluruh yang mampu mengembalikan fungsi jalan tersebut sebagai akses utama warga. Padahal, keberadaan jalan ini sangat vital karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret sebelum kerusakan semakin parah dan berpotensi memutus akses antar desa. Perbaikan total dinilai sangat mendesak, mengingat jalan ini merupakan satu-satunya jalur utama yang digunakan masyarakat setempat.
“Harapan kami, pemerintah segera ambil tindakan,” tandas Wiryokusmo.














