Example floating
Example floating
DaerahHeadlineHukumKriminal

Kecam Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Teguh Santosa: Ancaman Serius bagi Demokrasi

×

Kecam Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Teguh Santosa: Ancaman Serius bagi Demokrasi

Sebarkan artikel ini
Teguh Santosa
Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa,(foto Istimewa).

Kontras.id, (Jakarta) – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, melontarkan kecaman keras atas aksi penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Ia menilai insiden tersebut tidak hanya sekadar tindakan kriminal, melainkan ancaman nyata terhadap demokrasi serta perlindungan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.

Menurut Teguh, para pegiat HAM menjalankan tugas yang berkaitan langsung dengan kepentingan publik dan negara. Karena itu, tindakan intimidasi atau kekerasan terhadap mereka sama artinya dengan merusak nilai-nilai demokrasi yang dijamin oleh konstitusi.

“Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus dari KontraS adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri. Aktivis HAM bekerja untuk kepentingan rakyat dan kepentingan negara, karena penegakan HAM dan demokrasi merupakan amanat konstitusi,” kata Teguh Santosa dalam keterangannya dikutip pada Minggu 15/03/2026.

Kekerasan Dinilai Mengancam Demokrasi

Teguh menegaskan bahwa sistem demokrasi menuntut adanya sikap saling menghargai, termasuk dalam menghadapi perbedaan pandangan. Dalam kerangka itu, kekerasan terhadap aktivis yang memperjuangkan demokrasi dan HAM tidak dapat dibenarkan.

“Menyerang aktivis demokrasi dan HAM, meskipun berbeda pendapat dengan mereka, tetap tidak dapat dibenarkan. Dalam demokrasi setiap orang hendaknya berpegang pada prinsip menghormati perbedaan dan keragaman karena semua berbuat untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi,” ujar Teguh.

Ia juga menilai demokrasi hanya dapat berjalan dengan baik apabila negara menjamin kebebasan sipil, termasuk kebebasan menyampaikan kritik serta menyuarakan kepentingan masyarakat.

Desak Polisi Ungkap Dalang Serangan

Teguh meminta aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Republik Indonesia (Polri), melakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap pelaku, motif, hingga pihak yang diduga berada di balik peristiwa tersebut.

“Saya meminta aparat penegak hukum, khususnya Polri, memastikan pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” tegas Teguh.

Ia menduga serangan yang menimpa Andrie Yunus tidak dilakukan secara spontan, melainkan telah direncanakan dengan pola yang terorganisir. Karena itu, proses hukum tidak boleh berhenti hanya pada pelaku di lapangan.

“Pola serangan yang dilakukan tampaknya terencana dan terorganisasi, sehingga pengungkapan peristiwa ini tidak boleh berhenti di tingkat eksekutor, tetapi juga harus mengungkap aktor intelektual di baliknya,” kata Teguh.

Teguh juga mengaku telah berkomunikasi dengan aparat kepolisian terkait perkembangan penanganan perkara tersebut. Ia berharap proses penyelidikan dilakukan secara cepat, transparan, dan memberikan kepastian hukum bagi publik.

Kronologi Penyerangan

Berdasarkan informasi yang dihimpun KontraS, beberapa hari sebelum kejadian Andrie Yunus sempat menerima sejumlah panggilan dari nomor tidak dikenal pada periode 9 hingga 12 Maret 2026. Nomor-nomor tersebut diduga berkaitan dengan spam penipuan, pinjaman online, hingga modus m-banking.

Pada hari kejadian, Andrie beraktivitas seperti biasa. Sekitar pukul 15.30 WIB ia berangkat dari kantor KontraS menuju kantor Center of Economic and Law Studies (CELIOS) di kawasan Menteng untuk menghadiri sebuah pertemuan.

Usai kegiatan tersebut, sekitar pukul 19.45 WIB, Andrie melanjutkan agenda ke kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng. Di lokasi itu ia melakukan perekaman podcast bersama staf YLBHI, Zainal Arifin, dengan tema “Remiliterisasi dan Judicial Review UU TNI”.

Rekaman siniar berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Namun Andrie masih berada di kantor YLBHI hingga sekitar pukul 23.00 WIB sebelum pulang menggunakan sepeda motor. Ia sempat berhenti mengisi bahan bakar di SPBU Cikini sebelum melanjutkan perjalanan.

Sekitar pukul 23.37 WIB, ketika melintas di Jalan Salemba I dengan sepeda motor Yamaha Aerox berwarna kuning, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang dikendarai dua orang melawan arah di kawasan Talang.

Kendaraan tersebut diduga berjenis Honda Beat atau Honda Vario model lama berwarna hitam dengan panel putih di bagian belakang. Saat kedua kendaraan berpapasan, salah satu pelaku tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban.

Cairan itu mengenai bagian kanan tubuh Andrie, terutama mata, wajah, dada, dan tangan. Korban langsung berteriak kesakitan, menghentikan laju sepeda motornya, dan terjatuh di lokasi.

Menurut keterangan KontraS, Andrie sempat berteriak meminta tolong sambil berteriak, “AAAH, AAHH, AAHH, PANAS… PANAS!” lalu berteriak “AIR KERAS, AIR KERAS,” hingga warga sekitar berdatangan.

Cairan tersebut bahkan menyebabkan pakaian korban meleleh. Dalam kondisi kesakitan, Andrie masih berusaha mengambil sepeda motor serta tasnya sebelum meninggalkan baju yang rusak di tempat kejadian. Sementara itu, pelaku langsung melarikan diri menuju Jalan Salemba Raya.

Saat melarikan diri, pelaku diduga menjatuhkan sebuah gelas berbahan stainless steel yang digunakan untuk membawa cairan tersebut.

Korban Mendapat Perawatan Medis

Tidak lama setelah kejadian, sekitar pukul 23.38 WIB, Andrie kembali mengendarai motornya menuju rumah kontrakan di kawasan Menteng melalui jalur belakang.

Dua rekannya, Rizky dan Hardingga, kemudian membawa Andrie ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menggunakan sepeda motor. Korban tiba di rumah sakit sekitar pukul 23.48 WIB dan segera mendapatkan penanganan medis.

Berdasarkan hasil diagnosis awal dokter, Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen. Saat ini ia ditangani oleh enam dokter spesialis, mulai dari spesialis mata, THT, saraf, tulang, thoraks, organ dalam, hingga kulit.

Korban juga dijadwalkan menjalani operasi mata berupa transplantasi membran amnion guna memperbaiki jaringan mata yang mengalami kerusakan.

Perwakilan KontraS, Dimas, memastikan tidak ada barang milik korban yang hilang dalam kejadian tersebut. Karena itu, ia meminta aparat kepolisian segera mengungkap pelaku serta motif di balik penyerangan terhadap aktivis HAM tersebut.

“Serangan ini berpotensi menjadi ancaman serius terhadap keselamatan pembela hak asasi manusia di Indonesia,” tandas Teguh.

Share:  
Example 120x600