Kontras.id, (Bone Bolango) – Kepala SDN 9 Bone Pantai, Nur Ikhlas Muhammad, menyampaikan keluhan terkait pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya, saat momen reses Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, Kristina Mohamad Udoki, di Desa Tunas Jaya, Kecamatan Bone Pantai, Kabupaten Bone Bolango, Rabu (4/2/2026).
Nur Ikhlas mengungkapkan, program MBG pada awalnya berjalan baik dan menu ikan yang disajikan cukup memuaskan bagi siswa. Namun belakangan, ia menyebut sekolahnya menerima keluhan dari anak-anak karena lauk MBG dinilai tidak layak.
“MBG atau makanan bergizi gratis di sekolah kami itu awalnya bagus, ikannya memuaskan bagi anak-anak. Tapi akhir-akhir ini kami selalu mendengar keluhan dari anak-anak siswa, mereka mengeluhkan menu lauk pada MBG sekarang lebih banyak tulangnya dari pada daging,” ungkapnya.
Ia mengatakan, siswa bahkan mempertanyakan langsung kondisi lauk yang mereka terima.
“Anak-anak bahkan sering bertanya, ibu, torang cuma makan tulang?” lanjutnya.
Nur Ikhlas menyebut, keluhan tersebut sudah pernah disampaikan secara tertulis, namun hingga saat ini belum ada perubahan.
“Keluhan ini sudah kami sampaikan secara tertulis, tapi sampai sekarang tidak ada perubahan,” ujarnya.
Selain lauk, pihak sekolah juga menyoroti menu buah yang dinilai monoton karena selalu buah yang mudah ditemukan di wilayah Bone Pantai.
“Juga dikeluhkan soal menu buah MBG itu hanya berupa buah-buahan yang banyak didapati di sini, seperti pepaya, pisang. Itu anak-anak disini hampir setiap hari makan itu,” katanya.
Ia pun berharap variasi buah dapat ditingkatkan agar siswa tidak bosan dan memiliki pengalaman mengenal jenis buah lain.
“Sehingga itu saran kami tolonglah sesekali buahnya diganti dengan buah-buahan yang jarang ditemui di sini supaya siswa tidak bosan dan bisa mengenal jenis buah yang berbeda,” tambahnya.
Pada kesempatan itu, Nur Ikhlas meminta agar aspirasi tersebut dapat disampaikan kepada pihak terkait melalui Femmy Udoki.
“Pada kesempatan ini melalui ibu Femmy kami meminta agar aspirasi ini tersampaikan kepada pihak-pihak terkait dan bisa menjadi perhatian serius,” tutupnya.
Menanggapi hal tersebut, Femmy Udoki menegaskan keluhan MBG merupakan persoalan serius dan akan segera ditindaklanjuti.
“Terkait dengan keluhan MBG, ini masalah serius, saya akan segera tindak lanjuti. Saya akan koordinasikan ini bersama pemerintah provinsi,” kata Femmy.
Ia juga menyinggung upaya pengawasan yang selama ini dilakukan Pemerintah Provinsi Gorontalo, termasuk sidak yang dilakukan Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah.
“Selama ini pemerintah provinsi melalui ibu Wakil Gubernur, Idah Syahidah begitu serius mengawasi dapur-dapur MBG lewat sidak-sidak yang beliau lakukan. Tapi nyatanya ini belum maksimal juga,” ujarnya.
Femmy menilai pengawasan tidak bisa hanya dibebankan pada Wakil Gubernur, melainkan harus melibatkan instansi teknis.
“Sehingga kalau boleh jangan cuma ibu wagub yang turun memantau semua dapur MBG se-provinsi Gorontalo. Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten juga harus turut serta memantau ini,” tegasnya.
Ia juga meminta sekolah dan masyarakat dapat mendokumentasikan makanan jika terjadi keluhan.
“Kalau bisa difoto makanannya jika ada keluhan-keluhan. Jangan pemilik dapur ini seenaknya, hanya di awal-awal menunya bagus namun semakin kesini mulai kurang menarik,” tambahnya.
Usai reses tersebut, Femmy Udoki langsung mendatangi SPPG Desa Tihu, Kecamatan Bone Pantai, untuk menyampaikan keluhan masyarakat terkait menu MBG.
“Tadi ada keluhan dari masyarakat bahwa lauk pada MBG itu hanya tulang. Tolong ini bisa jadi perhatian,” ujar Femmy kepada petugas SPPG.
Ia berharap pelaksana program dapat lebih memperhatikan kualitas menu, mengingat MBG merupakan program pemerintah pusat yang dinilai sangat bermanfaat.
“Mengingat program dari pemerintah pusat ini sudah sangat baik dan bermanfaat bagi masyarakat utamanya anak-anak. Sehingga itu kami berharap menu-menu yang disajikan itu bisa diperhatikan secara detail,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Desa Tihu, Alwin P. Karim, mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap keluhan yang disampaikan.
“Ini akan kita evaluasi, nanti kedepan ketika ada daging yang menyusut begitu nanti kita bisa bikin double, supaya dia tidak kecil kan,” ujar Alwin.
Terkait keluhan variasi buah, Alwin memastikan pihak SPPG akan menyesuaikan menu sesuai kebutuhan di wilayah setempat.
“Tentang keluhan soal buah, Insya Allah juga kedepan kita akan sajikan buah yang diinginkan, misalkan disini kan jarang sekali anggur, sehingga nanti kita akan buat menunya itu ada anggur,” pungkasnya.










