Kontras.id, (Bolmut) – Kunjungan Bupati dan Wakil Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) ke lokasi abrasi pantai di Desa Busisingo Utara, Kecamatan Sangkub memantik reaksi publik.
Kali ini, sorotan datang dari Kotua Dewan Netizen Bolmut, Farid Mamonto. Ia secara terbuka mempertanyakan peran anggota DPRD daerah pemilihan (Dapil) III selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Farid mengaku baru saja membaca pemberitaan Kontras.id terkait peninjauan langsung Bupati dan Wabup Bolmut di lokasi abrasi.
Namun, ia menekankan satu pernyataan penting dari Kepala Desa Busisingo Utara yang menyebutkan bahwa abrasi pantai telah dikeluhkan masyarakat selama hampir sepuluh tahun, dan selalu disampaikan dalam forum Musrenbang maupun agenda reses anggota DPRD.
“Pertanyaannya sederhana, kalau sudah sepuluh tahun disampaikan, kenapa tidak ada pergerakan apa pun?” tanya Farid dalam video tersebut seperti dilansir Kontras.id, Kamis 08/01/2026.
Farid secara khusus menyoroti anggota DPRD dari Dapil III Bintauna-Sangkub yang telah menjabat lebih dari satu periode. Ia mempertanyakan kinerja para wakil rakyat yang, menurutnya, selama ini menikmati fasilitas negara namun abai terhadap keluhan masyarakat pesisir.
“Kalian terima gaji dari uang rakyat, naik mobil bagus, tapi keluhan abrasi ini sepuluh tahun tidak tertangani,” ucap Farid.
Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukan ditujukan kepada pejabat yang baru dilantik. Menurut Farid, Aleg yang baru menjabat wajar jika masih dalam tahap penyesuaian.
“Kalau yang baru terlantik, baru mau jalan dua tahun, pasti bilang ‘kami baru’. Itu bisa dimaklumi,” kata Farid.
“Tapi kalau kalian yang sudah dua periode, lagi ngapain selama ini? Abrasi sudah begitu lama. Woi… bangun!” tegas Farid di akhir videonya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, abrasi pantai di Desa Busisingo Utara telah menggerus sekitar satu kilometer garis pantai, dengan daratan terkikis hingga puluhan meter ke arah pemukiman.
Dampaknya tidak hanya mengancam rumah warga, tetapi juga merendam persawahan dan merobohkan ratusan pohon kelapa milik masyarakat.














